Pengertian dan Hukum Sewa-Menyewa Dalam Islam

Posted on

Pengertian dan Hukum Sewa-menyewa Dalam Islam – Sewa menyewa artinya melakukan akad mengambil manfaat sesuatu yang diterima dari orang lain dengan jalan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah di tentukan, dengan syarat-syarat sebagai berikut:

Pengertian dan Hukum Sewa-Menyewa dalam Islam

Syarat dalam Sewa-menyewa

1. Barang yang diambil manfaatnya, harus masih tetap tampak sampai waktu yang telah ditentukan menurut perjanjian.

2. Waktunya harus dapat diketahui dengan jelas, misalnya sehari, seminggu atau sebulan dan seterusnya.

3. Pekerjaan dan manfaat sewa menyewa itu harus diketahui jenisnya, jumlah dan sifatnya serta sanggup menyerahkannya. Dan manfaat yang boleh disewakan adalah manfaat yang berharga.

4. Syarat Ijab qabul sama dengan sayarat ijab qabul pada jual beli dengan tambahan menyebutkan masa waktu yang telah ditentukan.

Rusaknya Sewa-menyewa

1. meninggalnya salah satu dari orang yang menyewa dan menyewakan, tidak berakibat batalnya akad sewa-menyewa. Akad sewa menyewa dianggap batal, apabila barang sewaannya rusak dan tidak bisa diambil manfaatnya lagi. Hal ini jika barang yang disewa rusak pada saat akad itu terjadi.

2. Meyewa barang-barang dalam tanggungan seseoarang. Seperti menyewa mobil yang dinaiki untuk pergi dari jakarta ke bandung. Maka rusaknya mobil yang dinaiki itu tidak membatalkan akad sewa-menyewa., sebab sewa menyewa yang demikian pada hakikatnya bukan meyewa bentuk mobil. Tetapi mengambil manfaat dari mobil tersebut untuk membawa orang ketempat yang sudah ditentukan.

3. Apabila barang sewaanya sewaktu digunakan tiba-tiba rusak, maka penyewa tidak harus menggntinya. Terkecuali karena kelalaian si penyewa.

Tanggungan Orang Yang Menyewa

Orang yang menyewa harus jujur, dapat dipercaya dan memakai barang sewaanya dengan hati-hati. Kalau dengan cara demikian ada kerusakan, maka ia tidak berkewajiban untuk menanggung. Demikian pula orang yang dibayar harus jujur dalam melaksanakan pekerjaannya. Kalau tidak ada kejujuran, kerusakan-kerusakan yang disengaja menjadi tanggungannya. Seperi orang menyewa hewan. Ia mengerjakan dengan baik, tiba-tiba hewan tersebut mati. Ia tidak menanngung. Tetapi apabila ia menggunakannya tanpa kebaikan, apabila mati menjadi tanggungannya. Dengan demikian tidak ada tipu muslihat untuk merugikan yang lain.

Hukum Sewa-menyewa

Hukum sewa menyewa itu mubah (boleh) syariat islam memperbolehkan sewa-menyewa. Bentuk mu’amalah sewa-menyewa itu dibutukna dalam kehidupan manusia, karena itulah islam memperbolehkannya. Seseorang terkadang dapat memnuhi salah satu kebutuhan hidupnya tanpa melakukan pembelian barang, karena memiliki uang yang terbatas, tetapi dapat menggunakan barang yang diperlukan dengan cara menyewanya.

Seperti halnya tidak semua orang bisa membeli rumah, namun dapat menempatinya dengan cara menyewa, tidak semua orang bisa membeli mobil, namun bisa menggunakannya dengan cara menyewa. Jadi dapat disimpulan bahwa disamping mu’amalah jual beli, maka mu’amalah sewa-menyewa mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehar-hari sejak dahulu hingga sekarang dan setiap orang dapat mempunyai hal untuk melakukan sewa-menyewa berdasarkan prinsip-prinsip yang diatur oleh syariat islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.