Pengertian Qiradh, Hukum dan Rukunnya

Posted on

Pengertian Qiradh, Hukum dan Rukunnya– Yang dimaksud dengan Qiradh adalah perjanjian mengenai penyerahan modal kepada seseorang atau badan usaha tertentu agar dikembangkan dan keuntungannya menjadi hak kedua belah pihak sesuai dengan perjanjian. sistem Qiradh telah ada sebelum Islam dan disetujui oleh islam karena mengandung nilai-nilai yang positif dan telah di lakukakan oleh Rasulullah Saw mengambil pokok dari Siti Khadijah sewaktu beliau berniaga ke syam dan Ijma’ sahabatnya.

Pengertian Qiradh, Hukum dan Rukunnya

Dalam sebuah hadist Nabi Saw diterangkan sebagai berikut:

Artinya: Dari Shuhabi ra, bahwa Nabi Saw telah bersabda: tiga perkara yang diberkahi oleh Allah ialah: “Jual beli sampai batas waktu, memberi modal, mencampur syair dengan gandum untuk dirumah dan bukan untuk jual beli”. (HR Ibnu Majah dengan sanah lemah)

Hukum dari Qiradh ialah boleh (mubah), sebagai mana firman Allah Swt berikut ini.

Artinya:” Tiada dosa atas kamu sekalian akan mencari kelebihan dari Tuhanmu.” (QS Al-Baqarah :198)

Qiradh mempunyai 4 rukun diantaranya ialah:

1. Harus dengan uang tunai dan diketahui jumlahnya.

2. Pekerjaan: dengan syarat tidak boleh dibatasi dengan tempat, waktu dan barang –barang yang harus diperdagangkan.

3. Keuntungan: dengan akad pada perjanjian atau akad supaya ditentukan bagian masing-masing dari keuntungan yang akan diperoleh.

4. Orang yang memberi modal dan orang yang menjalankan. Dengan syarat baligh, berakal dan merdeka.
Qiradh sewaktu-waktu boleh dibubarkan (fasakh) oleh yang punya modal atau oleh orang yang diserahi pekerjaan itu. Jika salah satu dari mereka meninggal dunia atau gila, maka Qiradh itu batal.

Baca juga: HUkum Pinjam Meminjam Barang Dalam Islam

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Qirad

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masalah qirad antara lain sebagai berikut :
1. Penerima dan pemilik modal harus saling mempercayai dan dapat dipercaya

2. Penerima modal harus bekerja secara hati-hati. Dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari, hendaknya tidak mengggunakan akal

3.Perjanjian antara pemilik dan penerima modal hendaknya dibuat sejelas mungkin. Jika dipandang perlu dicarikan saksi yang disetujui oleh kedua belah pihak

4. Jika terjadi kehilangan atau kerusakan diluar kesengajaan penerima modal, hendaknya ditanggung oleh pemilik modal
5. Jika terjadi kerugian hendaknya ditutup dengan keuntungan yang lalu, jika tidak ada hendaknya ditanggung oleh pemilik modal.

Bagi orang yang melakukan Qiradh terdapat larangan yang tidak boleh dilakukan yaitu Tidak boleh menggunakan harta tersebut untuk kepentingan dirinya. Dalam suatu keterangan dari Hakim bin Hizam dinyatakan sebagai berikut yang artinya:

“Dari Hakim bin Hazim ra, bahwasanya ia mensyaratkan ats seseorang yang diberi modal sebagai Qiradh. “jangan digunakan modalku untuk barang bernyawa dan jangan kau taruh dilaut, jangan pula kau taruh di tengah jalannya air bah, apabila engkau berbuat sesuatu daripadannya, maka engkau yang menanggung modalku.” (HR Daruqutni dan rawi-rawinya siqat)

Tidak boleh berdagang ke tempat lain yang jauh yang membutuhkan biaya perjalanan yang banyak terkecuali dengan seizin yang punya modal. Apabila terjadi perselisihan maka yang dibenarkan adalah yang melakukan Qiradh kalau di berani mengangkat sumpah. Karena orang yang memberi modal sudah percaya sebelumnya kepada yang melakukan Qiradh dan Qiradh itu sifatnya amanah.

Baca juga: Pengertian Hukum dan Rukun Wadiah (Barang Titipan)

Dalam kehidupan bermasyarakat Qiradh mempunyai hikmah yang besar, karena mendorong seseorang untuk saling tolong menolong dan gotong royong terhadap anggota masyarakat. Sebab dalam kegotong royongan Qiradh ini baik untuk yang mempunyai modal maupun yang menjalankannya karena masing-masing dapat memperoleh keuntungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.