Pengertian dan Syarat-syarat Hiwalah (Pengalihan Tanggungan Hutang)

Posted on

Pengertian dan Syarat-syarat Hiwalah – Apa yang dimaksud dengan Hiwalah..? Hiwalah artinya akad pengalihan tanggung jawab membayar hutang dari seseorang kepada orang lain: Misalnya si A mempunyai hutang , seharusnya dialah yang wajib membayarhutang tersebut, tetapi kewajiban membayar hutang itu dialihkan kepada si B dengan akad.

Pengertian dan Syarat-syarat Hiwalah

Mengenai hutang ini hendaknya segera di selesaikan dan jangan sekali-kali suka memperlambat, menunaikannya. Dalam hadist Rasulullah Saw di jelaskan:

Dari Abi Hurairah ra, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Penahan orang yang kaya adalah suatu ke zaliman, dan jika diikutkan seseorang dari kamu kepada yang kaya, maka ia harus menerima penyerahan itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist lain menyatakan:

Dari Jabir ra, ia berkata: Telah wafat seseorang diantara kami, lalu memandikannya serta mengkafaninya, kemudian kami bawa kehadapan Rasulullah saw. Lalu kami bertanya: apakah engkau akan menshalatinya ? Maka beliau melangkah maju dan bertanya: “apakah ia berhutang ? kami jawab : ”Dua dinar.” Kemudian beliau berpaling, maka Abu Qatadah berkata: “Dua dinar itu diatas tanggung jawab saya.” Maka bersabda Rasulullah saw. “ benar-benar engkau telah menanggungnya sehingga terlepasalah si mayit dari padanya ? ia menjawab : “Ya.” Maka beliaupun bersembahyang atasnya.” (HR Abu Daud, Nasai dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)

Untuk lebih jelasnya hawalah adalah sebagi berikut :

A memberikan hutang kepada B sebanyak Rp. 100. 000
B memberikan hutang kepada C sebanyak Rp 100. 000

Sudah berkali-kali A menagih kepada B tidak berhasil, tetapi A mengetahui C berhutang kepada B sebanyak hutang kepada A. Kemudian karena dipandang bahwa A akan lebih mudah berhasil menagih kepada C, maka A minta kepada B untuk memindahkan haknya kepada C. Jika hal ini dapat diterima oleh B, maka ia bebas dari tanggungan kepada A dan tidak menghutangi C lagi, kemudian A hanya berhadapan dengan C.

Syarat-Syarat Hawalah

Untuk syarat-syarat hawalah dalah sebagai berikut:

1. Kerelaan orang yang mengalihkan hutang atau mahil

2. Persetujuan orang yang berpiutang atau muhal

3. Keadaan hutang yang dipindahkan itu sudah tetap menjadi tanggungan, maksudnya bukan piutang yang kemungkinan dapat gugur, seperti piutang maskawain dari perempuan yang belum berkumpul dengan suaminya.

4. Adanya persamaan hutang yang menjadi tanggungan muhal dan muhal’alaih (orang yang menerima pemindahan hak dari muhil). Baik dalam jenisnya maupun waktu bayar dan waktu penangguhan.

Menurut pendapat jumhur ulama, tanggungan muhil dapat gugur apabila hiwalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggungan muhil menjadi gugur. Seandainya muhal’alaih mengalami bangkrut atau membantah hiwalah, atau meninggal dunia, muhal tidak boleh lagi kembali kepada muhil.

Kecuali madzhab maliki, mereka mengatakan : “ Kecuali jika muhil telag menipu muhal dimana ia mengihalahkan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa (fakir).”

Imam Malik berkata: “ Persoalannya menurut kami, tentang orang yang menghiwalahkan kepada seseorang dengan hutangnya pada orang lain, jika ternyata muhal’alaih mengalami bangkrut, atau meninggal belum membayar kewajiban, maka muhal tidak memiliki apa-apa terhadap orang yang dihawalahkan dan tidak kembali kepada pihak pertama (muhil).”

Abu Hanifah, Syarih dan Ustman mengatakan:” Orang yang menghutangkan (muhal) kembali lagi (kepada si muhil) jika muhal’alaih meninggal dunia atau bangkrut atau membantah hiwalah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.